Pupuk Subsidi Langka, Petani di Kabupaten Langkat Terancam Gagal Panen


SUARA DESA | Langkat -

Kurangnya jatah pupuk urea bersubsidi, yang disalurkan Pemerintah, membuat para petani terus mengeluh, bahkan dari pendistribusian pupuk subsidi ini, banyak kios resmi sebagai penyalur pupuk tidak kebagian jatah sehingga, keberadaan pupuk subsidi menjadi langka.

Seperti yang terjadi di Kec Babalan Kab Langkat, sebanyak 50 ton pupuk urea bersubsidi dari Pemerintah yang disalurkan oleh distributor, tidak tersalurkan secara merata ke 9 kios resmi sebagai penyalur pupuk subsidi ke masyarakat petani.

Dari sembilan (9) kios pupuk yang ada di Kecamatan Babalan, hanya 4 kios yang mendapat pendistribusian pupuk urea subsidi, diantaranya:
 
1-UD Setia Mandiri Desa Securai Selatan 20 ton.
2-UD Riski Tani Desa Securai Utara 10 ton.
3- Gapoktan Arbain Desa Teluk Meku 10 ton.
4-UD Mujari Desa Teluk Meku 10 ton.

Sementara 5 kios pupuk lainnya tidak menerima pupuk urea subsidi, diantaranya:
 
1-UD Heriansyah Desa Securai Utara
2-UD Intani Desa Securai Utara
3-UD Citra Tani Desa Securai Selatan
4-UD Tani Sejahtera Kelurahan Pelawi Utara
5-UD Anugerah Desa Pelawi Selatan.

Padahal, luas areal lahan pertanian di Kec Babalan mencapai lebih kurang 4.000 Hektare, tentunya hal ini membuat para petani, kesulitan untuk mendapatkan pupuk beraubsidi.

"Kita heran, kenapa kios kita tidak mendapat jatah pupuk subsidi, padahal sebelumnya kita sudah membayar uang Rp 12 juta untuk menebus pupuk, tapi kenyataannya uang kita dikembalikan, karena tidak menerima pupuk urea bersubsidi", ucap Siburian yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan)  Sabar Do Desa Securai Sekatan.

Hal senada juga di sampaikan Suardi selaku Ketua Gapoktan Serasi Desa Securai Selatan, dimana pembagian pupuk yang tidak merata ini sangat di khawatirkan para petani, apalagi saat memasuki masa tanam.

Dirinya mengaku, jika permasalahan ini sudah disampaikan ke Badan Penyuluhan Pertanian (BPP)  Kec Babalan, agar bisa diatasi dan mencari solusi bagaimana petani bisa mendapatkan pupuk.

"Petani butuh pupuk, dengan keadaan ini tentunya sangat menyulitkan para petani, kita harap kejadian ini kedepannya tidak terulang kembali, jika harus di bagi dan disalurkan secara merata, sebaiknya di bagi secara adil dan merata agar setiap kios dapat jatah pupuk subsidi", ucap Suardi.

Sementara itu, Sampe Pintu Batu Sp, selaku Koordinar Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) Kec Babalan, saat dikonfirmasi, Senin (18/11/19) siang, terkait tidak meratanya pembagian pupuk di kios, dirinya mengatakan.

Jika selama ini pendistribusian pupuk dari distributor tanpa di diketahui oleh BPP, karena distributor langsung berhubungan dengan kios, bahkan sebelum pupuk di bagikan, pihak distributor sudah memberi sinyal (pesan) kesetiap kios jika pupuk akan di distribusikan.

"Memang betul kita dapat 50 ton pupuk urea subsidi, karena ada pengurangan jatah dari pemerintah, dengan tidak meratanya pembagian pupuk ini, kita harap masyarakat dapat menyiasatinya dengan membeli pupuk non subsidi atau berusaha beli dikios yang lain (Kecamatan lain)", ucapnya.

Diketahui, harga pupuk urea bersubsidi di pasaran Rp 97 ribu per karung isi 50 kg, sementara harga pupuk Urea non subsidi mencapai harga Rp 220-240 ribu per karung 50 kg, tentunya dengan kelangkaan pupuk subsidi, petani harus mengeluarkan kocek yang lebih besar untuk membeli pupuk non subsidi. (Nababan)

Editor : Sapta

No comments

Powered by Blogger.