Vaksin Virus Corona Terus Diteliti, Ini Fakta-faktanya

SUARA | Jakarta -

Bencana virus corona yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini menjadi perhatian dunia. Banyak negara sekitar Tiongkok sudah memberlakukan pengecekan ketat bagi para penumpang asing yang tiba di bandara. 

Bahkan pengecekan kesehatan ini pun juga dilakukan di bandara yang ada di Tiongkok sendiri. Tujuannya agar virus corona ini tidak semakin menyebar ke wilayah yang lebih luas. Diketahui bahwa virus ini pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok akhir Desember 2019.

Namun kini virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok ini sudah menyebar ke negara-negara tetangga seperti Jepang, hingga Amerika Serikat yang berada jauh dari Tiongkok. Penyebaran ini pun karena berpindahnya orang yang sudah terkena virus ke berbagai tempat.

Hingga sampai saat ini sudah ada 106 orang meninggal dan 4.515 lainnya terjangkit virus corona di Tiongkok mengutip dari Merdeka, Rabu (29/1/2020). Selain itu ada 60 kasus di 17 lokasi berbeda yang berada di luar Tiongkok yang terpapar oleh virus corona.

Para ahli pun akhirnya berpacu dengan waktu, tenaga dan pikiran untuk menemukan vaksin virus corona ini sebelum menjadi tak terkendali. Memang butuh waktu yang tak sebentar, namun kini sudah banyak ilmuwan, universitas dan perusahaan terkait yang sudah memulai untuk menemukan vaksin virus ini.

Berikut fakta-fakta mengenai para ahli berusaha temukan vaksin virus corona yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (29/1/2020).

Sebagai sebuah virus, vaksin untuk menangani virus corona ini memungkinkan, mengutip dari Global News, Rabu (28/1/2020). Sejak beberapa pekan kasus virus ini ditemukan, sejumlah peneliti Tiongkok sudah memulai memetakan kode genetik virus bar ini dan membagikannya kepada otoritas kesehatan dunia.

Hal ini pun dimaksudkan agar penemuan vaksin ini dapat dimungkinkan oleh banyak ilmuwan untuk menemukan vaksin virus tersebut.

Saat ini banyak kalangan tengah berusaha untuk menemukan vaksin virus corona. Seperti Koalisi Inovasi Kesiapan Epidemi (CEPI), sebuah organisasi yang juga mengembangkan vaksin untuk virus corona. Organisasi ini pun menargetkan waktu 16 pekan ke depan untuk mencoba vaksin tersebut kepada manusia.

CEPI sendiri sudah menyuntikan dana Rp 170 miliar ke tiga perusahaan untuk mulai menemukan vaksin virus corona. Contohnya ialah dua perusahaan farmasi Inovio Pharmaceuticals dan Moderna Therapeutics yang menerimaa uang miliaran dari CEPI untuk menciptakan vaksin melawan virus corona.

Selain perusahaan farmasai dan organisasi nirlaba, universitas pun juga turut andil dalam menemukan vaksin baru. Seperti tim ilmuwan dari Universitas Queensland Australia.

Pare penelitipun sedang menjalankan pendekatan "klem molekuler" yang sejauh ini memperlihatkan hasil yang bagus dalam uji coba laboratorium saat digunakan menangani virus seperti Ebola dan MERS.

Selain Australia, ada pula lab khusus di Pusat Vaksin Internasional Universitas Saskatchewan yang sudah menemukan vaksin untuk varian virus corona yang terkait dengan hewan ternak. Lab ini pun kini mengembangkan vaksin ini untuk digunakan oleh manusia. Para peneliti diharapkan sudah bisa menguji coba vaksin ini ke hewan dalam enam hingga delapan pekan ke depan.

Mengutip dari Merdeka, Rabu (29/1/2020) Anthony Fauci, direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular Amerika yang juga mengerahkan tim untuk menemukan vaksin virus corona mengatakan kepada harian the Washington Post, uji coba yang "diyakini cukup aman" terhadap manusia bisa dimulai tiga bulan lagi.

Meski sudah diketahui bahwa vaksin dapat diuji cobakan dalam waktu tiga bulan ke depan. Namun belum diketahui bahwa itu sudah menjadi waktu yang pasti dan mampu menangani virus tersebut.

No comments

Powered by Blogger.