Peluang Sukses dengan Menjual Tanaman Porang

SUARA | Jawa Timur -

Tanaman porang sedang ramai dibicarakan. Apalagi setelah salah satu warga Madiun, Jawa Timur sukses menanam dan menjual porang.

Ternyata Jawa Timur juga termasuk salah satu sentra produksi tanaman yang masuk jenis umbi-umbian ini.  Di Madiun, Jawa Timur, produksi porang sebesar 9.128,6 ton, hal itu berdasarkan data Dinas Pertanian Madiun.

Selain Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Banten, Jawa Tengah, Kalimantan dan Sumatera juga menjadi sentra produksi tanaman porong.

"Jawa Timur dan Sulawesi Selatan sudah banyak menanam. Jawa Timur khususnya Madiun. Sulawesi Selatan itu di Gowa," ujar Kasi Ekstensifikasi Ubikayu dan Aneka Umbi Lain, Pemberdayaan, Direktorat Aneka Kacang dan Umbi, Ina Dwi Hidayah saat dihubungi lewat pesan singkat, Rabu (5/2/2020).

Ina menuturkan, tanaman porang termasuk tanaman asli Indonesia. Tanaman Porang ini memiliki sejumlah nama antara lain kalau di Malang disebut iles-iles kuning, di Nganjuk disebut kajrong, di Jawa Barat disebut acung atau acoan, dan di Kalimantan disebut Kaladi hutan/maya/butian. Sedangkan kalau internasional disebut konjac.

Tanaman porang ini termasuk tanaman iles-iles yang tumbuh dalam hutan. Porang termasuk tumbuhan semak yang berumbi di dalam tanah. Umbi porang mengandung glukomanan yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan varietas Amorphophallus lainnya dengan kadar mencapai 15-65 persen.

"Glukomanan banyak digunakan sebagai makanan tradisional di Asia seperti mie, tofu, dan jelly. Tepung konjac juga merupakan salah satu makanan sehat di Jepang yang dikenal dengan nama konyaku,” seperti dikutip dari data Kementerian Pertanian.

Selain itu, manfaat tanaman porang lainnya antara lain menghasilkan karbohidrat dan memiliki produktivitas tinggi. Porang ini memiliki cita rasa netral sehingga mudah dicampur dan dicocokkan dengan beragam bahan baku kue tradisional dan modern.

"Porang juga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pangan, seperti dalam pembuatan es krim yang dengan penambahan tepung porang sebagai alternative bahan penstabil,” tulis keterangan tersebut.

Adapun tanaman porang ini cocok ditanam di daerah tropis serta dapat tumbuh di bawah tegakan pohon dengan suhu sekitar 25 derajat celsius hingga 35 derajat celsius. Tanaman ini juga tumbuh dengan curah huja antara 1.000-1.500 mm per tahun.

Selain itu, tempat tumbuh yang optimal berada di ketinggian 100-600 meter di atas permukaan laut dengan intensitas cahaya yang dibutuhkan antara 60 persen-70 persen.

Ditambah kondisi tanah yang diperlukan agar porang dapat tumbuh dengan baik adalah tanah dengan tekstur lempung berpasir dan bersih dari alang-alang dengan pH netral sekitar 6-7. Pada suhu di atas 35 derajat celsius daun tanaman akan terbakar, sedangkan pada suhu rendah tanaman porang mengalami dormansi.

Ina menuturkan, untuk memperbanyak benih porang ini ada tiga cara antara lain melalui katak/bulbil, umbi dan biji. Sedangkan untuk masa panennya antara lain benih yang berasal dari katak/bulbil bisa dipanen pada usia 1,5-2 tahun, benih yang berasal dari umbi bisa dipanen pada usia 6 bulan-1 tahun tergantung kebutuhan. Sedangkan benih yang berasal dari biji bunga bisa dipanen pada usia 3 tahun.

"Kalau dari umbi yang usia 6 bulan-1 tahun itu tergantung besarnya umbi yang ditanam. Porang maksimal panen usia 3 tahun,” kata Ina.

Umbi porang berpotensi memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Berdasarkan data litbang.pertanian.go.id, pada 2019, sejak awal Januari hingga pertengahan November 2019, jumlah ekspor porang dari Jawa Tengah totalnya mencapai 509 ton.

Peminat tanaman ini juga bukan hanya dari China tetapi juga diminati negara lain antara lain Jepang, Vietnam, Thailand, Hong Kong, Malaysia, Korea Selatan, Selandia Baru, Italia dan Pakistan. (lipt6)



No comments

Powered by Blogger.