Riau dalam Bayang-Bayang Kabut Asap Kebakaran Lahan

SUARA | Pekanbaru - 

Cuaca makin terik di sejumlah kabupaten di Riau sebagai pertanda musim kemarau mulai terjadi. Kekeringan lahan gambut menjadi ancaman nyata karena memicu kebakaran lahan yang berakibat munculnya kabut asap.

Bumi Lancang Kuning tiap tahunnya menjadi langganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Begitu juga kabut asap sebagai dampak sehingga bisa melumpuhkan pendidikan, penerbangan, dan ekonomi, seperti tahun lalu.

Tahun ini, bayang-bayang kabut asap kembali menghantui. Perlahan ada daerah yang diselimuti kabut asap seperti Kota Dumai pada Rabu pagi, 11 Maret 2020. Jarak pandang di daerah pelabuhan itu hanya 2 kilometer.

Menurut petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Yudistira, kabut asap itu adalah hasil karhutla. Pasalnya, di Kota Dumai terdeteksi titik panas sebagai indikasi kebakaran lahan.

"Jadi belum bisa dipastikan sebagai kiriman dari daerah lain," kata Yudistira kepada wartawan.

Bisa jadi, asap ini juga kiriman dari Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, ataupun dari Kabupaten Rokan Hilir karena Kota Dumai berdekatan dengan dua wilayah itu. Apalagi dalam beberapa hari terakhir Rupat dan Rokan Hilir terpantau titik panas.

Sementara, pada Rabu pagi, empat wilayah di Riau, termasuk Kota Dumai terpantau titik panas meskipun jumlahnya tidak sebanyak beberapa hari lalu. Sebaran titik panas ini ada di Bengkalis, Rokan Hilir, dan Kepulauan Meranti.

"Masing-masing daerah itu ada satu titik panas dengan level kepercayaan di atas 50 persen," kata Yudistira.

Titik panas indikasi karhutla diperkirakan bisa bertambah di Riau karena BMKG menyebut seluruh daerah pada pagi hingga siang hari cerah hingga berawan. Kondisi ini berlanjut pada malam hari dengan potensi hujan ringan tapi tidak merata.

"Hujan bersifat lokal ini diprakirakan terjadi di sebagian Kabupaten Bengkalis, Siak, Pelalawan, Kampar, dan Kota Pekanbaru," kata Yudistira dikutip liputan6.com.

Pada dini hari, kondisi cuaca cerah dan berawan masih berlanjut. Potensi hujan ringan dan tidak merata masih terjadi di sebagian Bengkalis, Kampar, Siak, Rokan Hulu, dan Rokan Hilir.

Jauh hari sebelum pergantian tahun, BMKG sudah mengingatkan Riau tentang potensi besar karhutla dan bencana kabut asap karena musim kemarau. Tahun ini disebut cuaca kering terjadi tujuh bulan, lebih lama dari tahun sebelumnya.

Riau pada tahun 2018 diselimuti kabut asap karhutla meski musim kemaraunya tak berlangsung lama. Kemarau pada Juli hingga September lalu membuat Riau kelabakan karena asap lebih cepat datang daripada antisipasi pemerintah daerah.

Apa yang terjadi tahun lalu diharap tak terjadi lagi. Riau mulai berbenah dan kini sudah ada aplikasi Lancang Kuning Nusantara besutan Polda Riau sebagai pendeteksi titik panas setiap waktu dan memonitor kerja petugas di lapangan.

Sekali lagi, aplikasi ini bukanlah pencegah terjadinya kebakaran lahan tapi sebagai deteksi muncul titik api. Aplikasi ini memudahkan pergerakan personel di lapangan karena titik panas terpantau detailnya.

Kapolda Riau Irjen Agung Setya Imam Effendi bisa melihat siapa saja anggotanya di lapangan. Dengan demikian tidak ada lagi anggota yang bisa berulah dan menyatakan ada di lokasi tapi kenyataannya tidak.

Di sisi lain, sudah ada posko relawan karhutla di setiap kabupaten kota. Untuk di Pekanbaru, Polda menyebut ada ratusan relawan yang sudah dilatih setelah bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi.

Keberadaan posko menjadi peluang bagi masyarakat umum untuk terlibat langsung mencegah dan memadamkan api kebakaran lahan. Sehingga tak ada alasan lagi bagi masyarakat menyatakan tidak dilibatkan.

Tak hanya tenaga masyarakat, baik itu polisi, TNI, ataupun pemerintah daerah juga menampung masukan dari kaum terpelajar terkait kebakaran lahan. Masukan bagaimana mencegah dan menyadarkan petani ataupun perusahaan agar tidak berkebun dengan cara membakar.


No comments

Powered by Blogger.