Dicari, 1.620 Sukarelawan untuk Uji Klinis Tahap 3 Vaksin Covid-19 Sinovac


SUARA DESA -

Koordinator uji klinis vaksin virus Covid-19 Kusnandi Rusmil mengatakan, timnya akan melakukan uji klinis tahap 3 vaksi Sinovac yang didatangkan dari China. Dia menjelaskan untuk pengujian tersebut dibutuhkan 1.620 orang.

"Saya harus melakukan pengujian bahwa vaksin ini betul-betul efektif dan aman sehingga dalam perhitungan statistik saya mengumpulkan kurang lebih 1.620 untuk dilakukan penelitian. 1620 orang-orang yang berumur 18 tahun sampai 59 tahun," kata Kusnadi usai bertemu Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2020).

Dia menjelaskan, nantinya 1.620 orang tersebut harus memiliki kriteria yang sesuai. Salah satunya yaitu sehat.

"Jadi orang itu pasti diperiksa dulu dengan teliti. Periksa darahnya periksa jantungnya, periksa paru-parunya sudah sehat baru dia bisa ikut penelitian ini," kata Kusnadi.

Dia menjelaskan, mereka yang mengikuti uji klinis nantinya akan diambil dari kantong-kantong penelitian Unpad. Kusnadi menjelaskan prinsipnya nanti sukarela.

"Karena saya sudah cukup lama melakukan penelitian vaksin Covid-19 jadi kami punya kantong-kantong penelitian akan memberikan brosur siapa-siapa yang ingin ikut penelitian kami silahkan melakukan pendaftaran. Itu sukarela," kata Kusnadi.

Tim uji klinis vaksin Covid-19 menyatakan uji klinis tahap III untuk vaksin kerja sama antara Bio Farma dan Sinovac Biotech, China, ditargetkan selesai pada Januari 2021.

Menurut Kusnandi, uji klinis tahap III vaksin COVID-19 dari Sinovac itu juga dikerjakan bersama-sama dengan negara lain seperti India, Bangladesh, negara-negara Afrika dan Amerika Latin.

"Uji klinis I dan II dilakukan di China dengan hasil yang baik, sekarang uji klinis ketiga dilakukan di beberapa negara dengan harapan hasilnya baik sehingga vaksin ini bisa dipergunakan," ungkap Kusnandi.

Dia mengakui Presiden Jokowi meminta uji klinis dapat dipercepat menjadi hanya 3 bulan saja, tapi ia menolaknya.

"Presiden mengatakan diusahakan vaksin ini cepat ada kalau bisa 3 bulan. Saya sampaikan tidak bisa 3 bulan karena kita harus melakukan dengan hati-hati dan dengan benar. Karena untuk uji klinis medis ada tata cara yang sudah diatur WHO, tidak boleh dipercepat karena nanti akhirnya tidak baik, malah vaksin ini tidak terpantau efek sampingnya dan manfaatnya," jelasnya, (Merdeka.com)





No comments

Powered by Blogger.