Nasib Warga Desa Poi Sigi dalam Ancaman Longsor Material Gunung yang Rapuh


SUARA DESA -

Nestapa sedang dialami oleh warga Desa Poi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Desa itu perlahan mulai tertutup material lumpur dan pasir dari gunung yang rapuh pascagempa September 2018 lalu. Desa itu pun disebut terancam hilang.

Sudah 6 kali banjir dengan material lumpur, pasir, dan batu besar menerjang Desa Poi di Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi. Yang terakhir terjadi pada awal Juli 2020. 

Material menghantam rumah-rumah warga, lumpur menutup akses jalan poros dan kebun-kebun yang ada di desa itu setinggi 1 meter.

Dusun 2 dan 3 Desa Poi terdampak parah. Di dua dusun itu, dari 180 keluarga sebagian besar telah meninggalkan desa. Penghidupan mereka di desa itu, rumah dan kebun, sudah terkubur lumpur dan bebatuan dari gunung. 

Sementara warga yang masih bertahan hidup menanggung ancaman bencana. Semua bencana itu terjadi setelah gempa yang terjadi pada 28 September 2018 lalu.

"Warga sekarang bingung, banyak di antaranya tidak punya tempat tinggal untuk mengungsi. Mereka banyak ke tempat keluarga, membangun pondok di sekitar desa, ada juga mengungsi di sekolah," kata Ketua RT 04, Dusun 2, Desa Poi, Kisman, Senin (13/7/2020).

Pilihan bertahan di desa itu bagi sebagian warga bukan tanpa sebab. Janji pemerintah yang akan merelokasi mereka dari desa Poi hingga pertengahan tahun 2020 ini belum juga terwujud. 

Padahal, ancaman banjir lumpur dan bebatuan gunung saat musim hujan menjadi keniscayaan bagi desa itu.

"Pokoknya kalau hujan pasti batu-batu dan lumpur masuk ke desa, apalagi kalau hujannya lebat. Seperti sekarang, kami hanya siang berada di desa, kalau malam terpaksa kami tinggalkan desa," Yahya menceritakan.

Jarak antara gunung yang mengancam desa dengan permukiman penduduk Desa Poi sendiri sekitar 1,5 kilometer.

Terancam Terkubur, Segera Relokasi Warga

Material dari pegunungan yang sejauh ini sudah mengubur sebagian Desa Poi itu disebut pakar kebencanaan dari Universitas Tadulako (Untad), Abdullah, berpotensi membuat seluruh area desa tertutup.

Abdullah menghitung, jika berdasarkan keterangan warga setempat luas area pegunungan yang menganga dan rapuh karena guncangan gempa tahun 2018 lalu mencapai 60 hektare. 

Jika menggunakan asumsi kedalaman kubangannya 1 meter saja, maka jumlah kandungan material yang berpotensi luber ke desa mencapai 12 ribu ton.

"Itu juga belum termasuk kandungan seluruhnya yang di dalam. Jumlah itu lebih dari cukup untuk menghilangkan desa sebelah selatan Kota Palu itu," Kata Abdullah, Senin (13/7/2020).

Guncangan gempa dan intensitas hujan tinggi seperti yang terjadi sekarang ini berpotensi terus melemahkan ikatan massa material gunung yang telah rapuh karena gempa dahsyat sebelumnya itu.

"Gunung itu sudah dilemahkan gempa tahun 2018 lalu. Warga segera harus direlokasi. Itu jalan satu-satunya. Kalau hanya dengan normalisasi sungai, akan sia-sia karena material terus turun," Abdullah merekomendasikan.

 



No comments

Powered by Blogger.