Petani Deli Serdang Kena Gusur, Jalan Kaki Temui Jokowi Ke Jakarta


SUARA DESA -

Ramli Sinulingga (58) duduk termangu. Di sekitarnya seratusan orang tampak berkumpul dan bercengkerama di ruang tamu dan teras Sekretariat Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Jambi. Sebagian pula sudah ada yang tidur di lantai tikar dengan bantal tas.

Usianya yang tak lagi muda, Ramli Sinulingga menjadi satu di antara ratusan petani dari Deli Serdang, Sumatera Utara, dalam aksi jalan kaki. Saat ini ratusan petani berada di Kota Jambi.

Saat singgah di Kota Jambi, Kamis (23/7/2020) malam, mereka mendapat tempat singgah di Sekretariat Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Wilayah Jambi di Lorong Siswa, Pall Lima, Kota Jambi. Mereka menginap semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke ibu kota Jakarta.

Di antara para petani yang sedang beristirahat itu aroma minyak angin menyeruak. Sementara petugas kesehatan dari Palang Merah Indonesia (PMI) setempat mendatangi satu persatu dari mereka untuk mengecek kesehatan.

"Kami masih semangat," ujar Ramli Sinulingga.

"Tadi langsung dites suhu badan sama petugas kesehatan, syukur kami semua sehat," sambung Awan Purba, Koordinator Serikat Petani Simalingkar Bersatu.

Total sebanyak 170 petani yang ikut aksi jalan kaki ini. Mereka adalah petani yang tergabung dalam Serikat Tani Mencirin Bersatu (STMB) dari Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, dan Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dari Desa Simalingkar A, Kecamatan Pancur Batu, Deli Serdang, Sumut.

Mereka ingin bertemu dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi agar segera menyelesaikan konflik agraria antara petani dan perusahaan pelat merah Tanjung Morawa yang sudah berlangsung lama.

Tak hanya pria dewasa dan ibu-ibu, puluhan orang lansia juga ikut dalam aksi jalan kaki itu. Mereka tak kenal lelah berjalan kaki bersama rombongannya mencari keadilan.

"Yang lansia ada 48 orang, dari belum ada giginya sampai enggak punya gigi orang-orang tua ini sudah di situ (di lahan yang digusur)," kata Arwan Purba dengan logat bataknya itu.

Aksi jalan kaki mereka lakukan karena areal lahan dan tempat tinggal yang telah dikelolanya sejak tahun 1951 digusur paksa oleh korporasi pelat merah. Padahal, petani telah mengantongi SK Landreform sejak tahun 1984. Bahkan, sebagian besar petani yang ikut tergusur sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM).

"Ini sertifikatnya saya bawa," kata Widi Wahyudi selaku Koordinator Petani dari Desa Sei Mencirim, sembari menunjukan sertifikat tanah yang dikeluarkan dari tasnya itu.

Widi Wahyudi berharap negara hadir dalam penyelesaian konflik tersebut. Aksi jalan kaki mereka lakukan hanya untuk menemui Presiden Jokowi agar pimpinan negara memberikan kepastian hukum atas hak mereka yang dirampas.

"Kakek-nenek kami sudah dari dulu berkebun dan berladang di tempat itu, yang sudah keluar sertifikat itu juga dihancurkan perusahaan, tempat tinggal kami digusur," kata Widi.

Adapun luas area yang berkonflik antara petani yang tergabung dalam SPSB dengan korporasi itu adalah seluas ± 854 hektare. Sementara luas area yang berkonflik petani yang STMB dengan perusahaan tersebut, seluas ± 850 hektare dan tuntutan petani STMB adalah seluas ± 323,5 hektare.

"Pemerintah harus punya empati pengembalian hak atas tanah kami, dan juga jangan lagi ada konflik agraria yang terjadi, jangan ada kriminalisasi petani kecil," kata Widi.

Para petani itu juga meminta pemerintah melepaskan tiga orang petani kawan mereka yang saat ditahan. Ketiga petani yang masih ditahan itu adalah Ardi subakti, Japet Purba, Benny Sitepu.

Ratusan petani dari Deli Serdang, Sumut, telah menempuh perjalanan seribu kilometer dari Kota Medan. Mereka setelah singgah di Jambi akan melanjutkan perjalanan kembali menuju istana Jakarta. Dari Medan menuju Jakarta mereka menempuh perjalanan 1.812 kilometer.

Menurut Widi, perjalanan mereka telah dilalui selama sebulan. Perjalanan dimulai tanggal 25 Juni 2020. Sampai ke Istana Negara di Jakarta mereka menargetkan pada tanggal 17 Agustus 2020. Mereka ingin kemerdekaan bagi seluruh petani dikumadangkan.

"Kami sendiri tidak mengerti harus mengayunkan langkah kami, aksi ini gila dan sebenarnya tidak diterima logika. Ini bukan perakara logika, tapi perkara hati. Negara yang buat seperti ini," ujar Widi.

Selama sebulan di perjalanan berbagai suka dan duka menyelimuti mereka. Terlebih mereka melakukan aksi jalan itu dalam situasi pandemi. Karena situasi ini, mereka pernah diusir ketika mendirikan tenda di daerah yang mereka lintasi. Padahal setiap melintasi perbatasan mereka selalu dites dan dinyatakan semua sehat.

"Kalau menceritakannya bisa menetes air mata, anak istri kami tinggal, kami tidak tahu makan apa di kampung," kata Widi.

"Kami harus berjalan, rintangan dan tantangan, kami pernah tidak diterima oleh masyatakat, malam masih enak enak tidur, kami diusir," ucap Widi ketika berbincang di Jambi.

Susah dan duka selama di perjalanan menurut Widi, bisa terlebur dengan semangat dan kegigihan dari peserta aksi jalan kaki untuk mencari keadilan. Berbagai rintangan seperti hujan dan terik panas yang mereka hadapi di perjalanan. Mereka lalui bersama.

"Bagi kami rawe-rawe rantas malang-malang putung. Sudah jadi tekat bulat, kami tidak peduli apapun di depan kami, kami akan terus berjalan mencari keadilan," kata dia.

Jumat pagi (24/7/2020) sebelum bertolak dari Kota Jambi, ratusan petani tersebut menggelar orasi di perempatan BI Telanapura Jambi. Hal itu mereka lakukan untuk meminta dukungan kepada masyarakat Jambi atas perjuangan mereka.

Setelah selesai menggelar aksi orasi, mereka lantas melanjutkan perjalanan menuju Palembang, Sumatera Selatan. Lirik lagu "Darah Juang" terus dikumandangan lewat pelantang suara, menyertai langkah perjalanan mereka. "Kami mohon negara hadir untuk permasalahan ini," demikian Widi.


No comments

Powered by Blogger.