Banjir Dan Longsor Kembali Melanda Bone Bolango, Ratusan Rumah Rusak

 
SUARA DESA -

Intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Bone Bolango (Bonebol) dalam beberapa hari terakhir membuat sejumlah kawasan di wilayah tersebut kebanjiran. 

Banjir bahkan tak hanya merendam permukiman warga, luapan air sungai juga merusak sejumlah fasilitas umum.

Informasi yang dirangkum, laporan terakhir mencatat ada sekitar 150 rumah warga yang rusak ringan hingga berat akibat terjangan air bah tersebut. 

Sementara warga yang terdampak banjir lainya ada sekitar 8.233 jiwa yang tersebar di 10 Kecamatan di Bonebol. Akibat bencana alam itu, sebanyak 2.625 orang mengungsi, lantaran rumah mereka dipenuhi material lumpur yang terbawa banjir.

Banjir bandang dan longsor juga merusak sejumlah fasilitas umum lainnya, mulai dari jembatan hingga fasilitas perkantoran. 

Berbagai bangunan seperti Puskesmas, gedung sekolah, jembatan, dan Jalan Trans Sulawesi sepanjang Bone pesisir ikut tertimbun material longsor.

"Kami tidak bisa kemana-mana, jalan banyak yang amblas dan tertimbun material longsor jadinya kami terisolir," kata Liya Hasan, salah satu pengungsi.

"Bantuan untuk kami juga sulit untuk tembus diakibatkan jalan yang masih terputus. Ditambah lagi jaringan telekomunikasi juga ikut putus," ungkapnya.

Hingga kini mereka masih bertahan di pengungsian, sebab rumah mereka rusak akibat terjangan derasnya luapan air sungai. Mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal, sebagian harta benda mereka juga ikut terbawa arus.

"Rumah kami sudah rusak, ditambah lagi sebagian harta benda kami hanyut. Bahkan ada beberapa rumah yang hilang bagaikan ditelan bumi," tutupnya.

Sementara itu, Bupati Bone Bolango Hamim Pou saat dikonfirmasi, Minggu (3/8/2020) mengatakan, hingga kini pemerintah daerah terus melakukan penyaluran bantuan kepada korban yang terdampak. Jalan yang putus tidak menjadi penghalang untuk mendistribusikan bantuan.

"Memang jalur darat rusak parah dan tidak bisa dilalui, namun saya langsung mengambil keputusan bantuan dibawa melewati jalur laut agar bantuan ini sampai ke lokasi," kata Hamim.

"Akhirnya dengan menggunakan kapal Basarnas saya dan teman-teman bisa sampai di lokasi pengungsian korban banjir," katanya.

Hamim berharap, warga di sepanjang bantaran sungai maupun muara laut harus bersedia direlokasi ke tempat lebih aman. Relokasi rumah dan pembuatan tebing atau talut penahan ombak sepanjang 1 kilometer sangat diperlukan.

"Kementerian Pekerjaan Umum melalui balai diharapkan bisa segera membangunnya untuk menyelamatkan warga ini," tandasnya.



No comments

Powered by Blogger.