Data Kasus Corona COVID-19 Bocor, Jumlah Kematian di Iran Ternyata Lebih Tinggi?


SUARA DESA -

Angka kematian di Iran akibat Virus Corona COVID-19 kemungkinan lebih tinggi ketimbang angka resmi. Sebab, ada data yang bocor terkait jumlah kematian yang selama ini diduga disembunyikan pemerintah.

Dilansir BBC, Senin (3/8/2020), catatan resmi pemerintah menunjukan korban kematian di Iran mencapai 14.405 kasus. Sementara, data yang bocor menyebut sudah ada 42 ribu kematian.

Angka kasus infeksi juga diduga lebih tinggi. Angka resmi menyebut ada 278 ribu kasus, namun data yang bocor menyebut ada 451 ribu total kasus. Bocoran data kasus Virus Corona baru di Iran itu diberikan kepada BBC secara anonim.

Berdasarkan data itu, angka kematian di Iran ternyata sudah terjadi pada 22 Januari. Itu berbeda dari versi pemerintah yang menyebut Virus Corona baru muncul pada Februari.

Data tersebut juga mengandung data perawatan di rumah sakit, termasuk nama, usia, jenis kelamin, gejala, tanggal dan lama tinggal di rumah sakit. Penyakit penyerta pasien juga ditulis.

Sumber anonim itu mengirimkan bocoran data ini untuk mengakhiri "permainan politik" selama pandemi corona berlangsung. BBC belum bisa memverifikasi apakah sumber anonim itu berasal dari pemerintah Iran atau bukan.

Jumlah kematian di ibu kota Tehran mencapai 8.120. Kematian itu terdiri atas pasien yang menderita COVID-19 atau punya gejala serupa. Kota Qom yang menjadi klaster pertama di Iran mencatat 1.419 kematian. Itu artinya ada satu orang meninggal di tiap 1.000 orang.

Jumlah kematian warga asing di Iran tercatat 1.916 pasien. Posisi pemerintah Iran saat ini sudah "berdamai" dengan corona, sebab perekonomian ingin kembali dibangkitkan. Namun, warga diminta waspada saat beraktivitas.


No comments

Powered by Blogger.