Pulau Adonara Porak-poranda Diterjang Banjir Bandang dan Longsor, PVMBG Salahkan Hujan

Banjir Bandang melanda Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu (4/4/2021). (Foto: Dokumentasi BNPB)

SUARA DESA -
 
Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM menerbitkan analisa kejadian gerakan tanah yang memicu longsor parah di Adonara Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. 
 
Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM Andiani mengatakan, secara umum penyebab gerakan tanah diperkirakan adalah curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya bencana. Andiani menyebut, kemiringan lereng yang curam juga mengakibatkan batuan yang bersifat lepas mudah bergerak.
 
"Tanah pelapukan dan batuan penyusun berupa produk gunung api yang bersifat lepas dan mudah luruh jika terkena air. Kemiringan lereng yang curam dan kondisi tanah pelapukan yang labil dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi," ujar Andiani, Senin (5/4/2021).
 
Andiani menuturkan dampak kejadian pada Minggu, 4 April 2021 pukul 01.00 Wita saat terjadi hujan deras, banjir bandang dan longsor mengakibatkan 23 orang meninggal dunia dan 9 orang luka-luka.
 
Selain itu 2 orang dinyatakan hilang, 49 kepala keluarga (KK) terdampak. Dilaporkan pula kurang lebih 100 orang diduga masih tertimbun di Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Adonara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
 
"Puluhan rumah warga tertimbun lumpur di Desa Lamanele, Kecamatan Ile Boleng. Jembatan putus di Desa Waiburak Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Adonara, Provinsi Nusa Tenggara Timur," kata Andiani.
 
Adiani menuturkan sehari sebelum kejadian di Nusa Tenggara Timur, tepatnya 3 April 3021 turun hujan intensitas gerimis hingga deras berdurasi 12 jam berakibat gerakan tanah tanah.
 
Gerakan tanah juga terjadi di tebing yang berada di kaki Gunung Slamet mengakibatkan 1 rumah rusak dan 4 rumah terancam tertimbun longsor di Desa Wotgalih RT 03 RW 03 Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah.

"Prakiraan wilayah potensi terjadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan April 2021 dibandingkan Maret 2021, potensinya mulai memasuki masa transisi atau peralihan tahunan terkait penurunan potensi ancaman gerakan tanah tanah khususnya di wilayah Jawa serta sebagian besar wilayah Sumatera," sebut Andiani.

Andiani mengungkapkan beberapa wilayah yang masih berpotensi tinggi meliputi Wilayah Aceh di Sumatera, Kalimantan bagian Tengah-Utara, Sulawesi Bagian Tengah, Gorontalo, Papua, Maluku seperti Pulau Buru, Maluku Utara bagian Timur serta sebagian wilayah Nusa Tenggara.

Andiani mengingatkan meski adanya penurunan intensitas gerakan tanah, seluruh kelompok masyarakat harus tetap perlu meningkatkan kewaspadaan tinggi di masa peralihan ini terutama pada saat turun hujan di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan seputaran bantaran sungai. 
 
Editor : Diko

 
 

No comments

Powered by Blogger.