Malnutri Kronis, Harimau Sumatra Mati di Tempat Rehabilitasi

Foto : Tim dokter hewan saat memeriksa Harimau Sumatera yang mati di kadang rehabilitasi BKSDA Jambi. (Liputan6.com/BKSDA Jambi)

SUARA DESA -

Seekor Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang sempat menerkam dua warga hingga tewas di Kabupaten Merangin, Jambi, ditemukan mati di kandang rehabilitasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi. Si raja rimba itu pergi selamanya setelah mengalami malnutrisi kronis.

Harimau Sumatra berjenis kelamin betina ketika pertama masuk kandang rehabilitasi sudah dalam kondisi terluka dan kurus akibat kekurangan nutrisi. Selain kekurangan makanan, tim dokter hewan yang menanganinya menyebut satwa belang itu juga mengalami gangguan pencernaan.

Pada Selasa dinihari (2/11/2021) sekitar pukul 02.00 WIB, tim dokter masih memberikan makanan. Terlihat satwa itu hanya berbaring, lemas, respons kurang (letargi), kepala masih diangkat, namun diletakkan kembali.

Kemudian pada pagi harinya atau sekitar pukul 07.00 WIB, saat tim dokter mengecek kembali dan hendak memberikan makan, namun harimau tersebut sudah dalam keadaan terbujur, kaku, dan diketahui telah mati.

"Diperkirakan matinya beberapa waktu sebelumnya atau sekitar pukul 05.00 WIB," kata Kabag TU BKSDA Jambi, Teguh dalam keterangan tertulisnya di Jambi, Rabu (3/11/2021).

Harimau Sumatra betina dan berumur 10 tahun dan memiliki panjang 2 meter itu adalah hasil penanganan konflik dari Kabupaten Merangin, Jambi. Raja rimba tersebut sebelumya dilaporkan menerkam dan menewaskan dua warga Merangin.

Diketahui harimau itu habitat alamnya berada di Hutan Adat Guguk. Namun diduga akibat kekurangan satwa mangsa di dalam hutan dan di sekitar hutan terjadi degradasi, harimau tersebut keluar dari habitatnya dan berkonflik dengan manusia.

Beberapa hari dilaporkan setelah menerkam warga, akhirnya harimau tersebut berhasil masuk perangkap dan dievakuasi ke tempat rehabilitasi satwa di Kota Jambi.

Saat dievakusi ke kandang rehabilitasi pada Sabtu (16/10/2021), harimau tersebut sudah dalam kondisi yang sangat buruk dan adannya kurus dan kering. Harimau Sumatra itu menderita malnutrisi, letargi, nafsu makan buruk, dan kaki kanannya terluka.

"Kami berikan makan secara berkala, yaitu ayam, kelinci, hati sapi serta vitamin (supportif) anti inflamasi dan anlgesi serta antibiotik. Namun, seringkali makanan tersebut tidak dihabiskan," kata drh. Yuli Akhmal selaku dokter yang menangani harimau tersebut.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium berupa darah (kimia dan mematologi) menggambarkan bahwa kondisi harimau mengalami anemia berat, (gambaran Hb 5,81 g/dl, normalya 8-15 g/dl), dehidrasi yang sangat berat.

Selanjutnya Yuli Akmal mengatakan, dari hasil pemeriksaan nekropsi (bedah bangkai) menunjukan beberapa perubahan yang signifikan seperti membran mukosa yang pucat, mata yang sangat cekung.

Kemudian mengalami konjungtiva pucat, organ lambung hingga usus yang mengalami perlukaan, masa otot/daging yang sangat tipis. Satwa mengalami patah tulang (fraktur obligue humerus dektra) sehingga menyulitkan satwa dalam berburu makanan/mangsa.

Dari gambaran perubahan baik dari pemeriksaan darah maupun gambaran perubahan organ secara nekropsi tim medis menyimpulkansementara bahwa penyebab kematian Harimau Sumatra yang berasal dari Merangin itu adalah 'malnutrisi kronis'.

"Namun selanjutnya untuk mengetahui secara pasti peyebab kematian harimau ini, kami akan mengirimkan sampel organ ke laboratorium PSSP (Pusat Study Satwa Primata)," kata Yuli. (*)

 

No comments

Powered by Blogger.