Bandara Kualanamu Bisa Saingi Bandara KLIA atau Changi

Foto : Bandara KNIA (Liputan6)

SUARA DESA -

Kemitraan strategis antara PT Angkasa Pura (AP) II dengan GMR Airports Consortium dinilai dapat menjadikan Bandara Internasional Kualanamu sebagai bandara penghubung internasional (hub) terkemuka di kawasan regional. Targetnya 54 juta orang penumpang pada 2046.

"Dengan menjadi hub internasional, Bandara Kualanamu ini bisa setara dengan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta bahkan menyaingi Singapore Changi Airport dan Kuala Lumpur International Airport (KLIA)," kata Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Rhenald Kasali di Jakarta, Senin (6/12/2021), dilansir Antara.

Sebelum pandemi, Bandara Kualanamu didominasi penerbangan domestik sebesar 90 persen dan 10 persen penerbangan internasional. "Bandara Kualanamu memiliki posisi strategis di kawasan regional. Targetnya adalah mendatangkan trafik internasional baru sebanyak-banyaknya," ujarnya.

GMR Airports adalah sebuah operator yang sudah berpengalaman di dunia dan tentunya memiliki jaringan untuk mendatangkan trafik baru tersebut. GMR Airports Consortium adalah milik GMR Group asal India dan AĆ©roports de Paris Group (ADP) dari Prancis, yang dikenal sebagai jaringan operator bandara yang melayani penumpang terbanyak di dunia.

Selain mendapat keuntungan pengembangan aset dari kerja sama pengelolaan bandara dengan skema build, operate, and transfer (BOT), GMR Airports diharapkan bisa mendatangkan trafik penerbangan internasional dari Asia Selatan. Rhenald menyebut trafik yang dimaksud adalah trafik transit.

"(Kalau transit) jelas bisa menguntungkan negara, karena artinya mendatangkan trafik baru, menciptakan pasar dan mereka tahu bagaimana mempercepatnya," kata dia.

Asia Selatan merupakan kawasan paling padat kedua di Asia, setelah Asia Timur (Tiongkok), yang rata-rata merupakan pekerja migran aktif datang dan pergi bekerja ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke Malaysia, Singapura, Australia, dan lain-lain.

Selama ini, mereka transit di Singapura dan Malaysia, sehingga menjadikan bandara di kedua negara tersebut sebagai hub internasional dan tersibuk. Khususnya pada waktu di luar jam-jam sibuk, yaitu tengah malam menjelang dini hari.

Adapun mengenai kekhawatiran sejumlah pihak soal ada penjualan aset dalam kerja sama pengelolaan bandara dengan skema BOT ini pun langsung ditampik Rhenald. Menurutnya, seluruh aset saat ini dan nantinya adalah tetap milik AP II.

"Apa yang dimaksud dengan aset? Kalau pengertiannya adalah tanah, bangunan, dan mesin dalam arti tangible asset, maka tidak ada yang dijual," ujar Rhenald.

Rhenald berpendapat bahwa kemitraan strategis pengelolaan Bandara Kualanamu dengan GMR Airports malah akan menguntungkan AP II. GMR Airports yang sudah berpengalaman akan investasi di Bandara Kualanamu dengan cara memperbesar fasilitas supaya bisa datangkan keuntungan dari trafik.

"Selama 25 tahun berbagi hasil, lalu semuanya akan diserahkan kembali ke Angkasa Pura II," katanya.

Kemitraan strategis dengan skema built operate trasfer (BOT) terkait pengelolaan Bandar Udara Internasional Kualanamu antara PT Angkasa Pura (AP) II dan GMR Airports Consortium bisa meringankan AP II dari beban investasi pembangunan infrastruktur yang berbiaya besar.

"Tidak ada unsur penjualan aset sama sekali dalam skema BOT ini, bandara masih tetap milik AP II. Hanya pengelolaannya saja yang diserahkan ke perusahaan patungan antara AP II dan GMR Airports," kata pengamat penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia Gerry Soedjatman dalam keterangannya, di Jakarta, dilansir Antara.

Untuk mengelola Bandara Kualanamu dibentuklah perusahaan patungan atau joint venture company (JVCo) bernama PT Angkasa Pura Aviasi (APA), dengan porsi saham 51 persen milik AP II dan GMR Airports sebesar 49 persen. Namun, adanya persentase kepemilikan saham tersebut bukan berarti menyatakan sebagai kepemilikan aset di Bandara Kualanamu.

Menurut Gerry, perusahaan patungan yang dibentuk pun hanya akan berperan sebagai pengelola Bandara Kualanamu. Ia mengibaratkan kerja sama ini seperti pemilik hotel yang menunjuk perusahaan lain untuk mengelola hotelnya.

"Hotelnya masih milik pemilik, bukan pemilik pengelola. Jadi, jangan sampai salah mengartikan. Pemahaman publik yang beredar bahwa ada penjualan aset dalam skema BOT ini jelas salah besar," ujar dia.

Melalui skema BOT ini, AP II juga tidak perlu bersusah payah mencari pembiayaan pembangunan dan pengembangan infrastruktur Bandara Kualanamu dalam rangka peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan. Dalam skema ini, perusahaan pengelola lah yang akan menanggung pembangunan tersebut dan itu pun menjadi aset milik AP II.

Langkah ini dipilih agar pemerintah tidak perlu lagi menyuntikkan dana terus-menerus ke AP II terkait pengelolaan bandara. Sehingga, AP II harus mencari langkah-langkah yang menguntungkan dalam ranah bidangnya, sambil mengadopsi cara-cara terbaik yang sudah dilakukan di bandara-bandara lain di dunia untuk diterapkan di Bandara Kualanamu.

"Bahkan, nantinya Bandara Kualanamu akan menjadi contoh peningkatan mutu pelayanan bagi bandara-bandara AP II yang lainnya," kata Gerry.

GMR Airports memiliki pengalaman pengelolaan bandara di beberapa negara untuk meningkatkan trafik penumpang dengan cara menerapkan strategi insentif bagi maskapai-maskapai agar mau meningkatkan penerbangan dari/ke bandara kelolaan mereka. Baik terhadap maskapai dalam negeri bandara tersebut, maupun maskapai dari luar negeri.

GMR Airports Consortium adalah milik GMR Group asal India dan AĆ©roports de Paris Group (ADP) asal Prancis, yang dikenal sebagai jaringan operator bandara yang melayani penumpang terbanyak di dunia.

Saat ini, GMR Airport mengelola New Delhi’s Indira Gandhi International Airport (Best Airport in India and Central Asia by Skytrax 2019-2021), lalu Hyderabad International Airport di India, Bidar Airport di India, Mactan Cebu International Airport di Filipina, serta tengah mengembangkan Goa International Airport di India, Visakhapatnam International Airport di India, dan Crete International Airport di Yunani.

Rekam jejak tersebut diharapkan mampu membantu mewujudkan keinginan AP II untuk mengembangkan Bandara Internasional Kualanamu dengan target peningkatan trafik penumpang hingga 54 juta orang pada tahun ke-25 kemitraan atau setara Bandara Internasional Soekarno-Hatta saat ini. (*)

 

No comments

Powered by Blogger.