Kericuhan Pecah Saat Penertiban Pengungsi Afghanistan Oleh Satpol PP di Medan

Foto : Satpol PP Kota Medan menertibkan para pengungsi asal Afganistan.

SUARA DESA -

Satuan Polisi Pamong (Satpol PP) Kota Medan menertibkan para pengungsi asal Afganistan yang sudah berhari-hari berada di depan Kantor Komisioner Tinggi untuk Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR), Jalan Imam Bonjol.

Penertiban berujung pada kericuhan hingga mengakibatkan 2 orang imigran dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Siloam, yang berada tidak jauh dengan lokasi penertiban. Awalnya, penertiban berjalan baik saat tenda-tenda pengungsi dibuka dan akan dibawa ke rumah pengungsian di Jalan Dr Masyur.

Petugas yang meminta para pengungsi agar pulang ke lokasi pengungsian dan meninggalkan lokasi, justru mendapat penolakan. Terjadi aksi saling dorong antara pengungsi Afghanistan dengan petugas Satpol PP hingga kericuhan tak terhindarkan.

Keadaan sempat kembali tenang saat pengungsi dan petugas mencoba melakukan dialog. Namun tidak juga menemukan titik terang, karena pengungsi menolak untuk pergi sebelum bertemu dengan perwakilan UNCHR atau pun Organisasi untuk Migrasi (IOM).

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Satpol Kota Medan, Rakhmat mengatakan, tempat para pengungsi berdemonstrasi merupakan fasilitas umum. Apalagi mereka sudah bertahan di lokasi tersebut cukup lama, terlebih saat ini masih pandemi Covid-19.

Rakhmat juga menyampaikan, aksi yang dilakukan para pegungsi asal Afghanistan sudah mengganggu ketertiban umum, dan termasuk juga mengganggu kegiatan orang lain dalam berusaha.

"Wali Kota Medan, Bobby Nasution, siap memfasilitasi pemidahan pengungsi ke tempat mereka masing-masing. Tadi ada penolakan, itu bisa, karena mereka memaksa untuk tetap tinggal dan dipindahkan ke negara ketiga," ucap Rakhmat, Rabu (15/12/2021).

Koordinator Aksi, Muhammad Zuma mengatakan, mereka sudah 48 hari bertahan di lokasi tersebut, namun tidak menemukan jawaban positif dari UNHCR. Mereka juga kecewa dengan reaksi yang dilakukan petugas Satpol PP.

"Kami tidak dihargai, ada teman kami kena pukul, dua masuk rumah sakit. Tidak tahu apa dosa dan salah kami. Kami sangat kecewa," ucapnya.

Diungkapkan Zuma, mereka sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Indonesia, termasuk di Kota Medan, namun belum mendapatkan jawaban pasti. Mereka sudah beberapa kali aksi damai ke lokasi yang berbeda, dan tidak pernah juga mendapat jawaban pasti.

"Itu alasan kami memutuskan untuk menginap di sini. Kami sudah minta agar mereka turun, tapi tidak didengar," ungkapnya. (*)

 

 

 

No comments

Powered by Blogger.