Mojang Bandung Bangun Ketahanan Pangan Lokal dan Bantu Warga Terdampak Pandemi

Foto : Penggerak kelompok Pertanian Urban Seni Tani Vania Febriyantie memetik sayuran kangkung di lahan yang berada di kawasan Arcamanik, Kota Bandung, Sabtu (9/12/2021). (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

SUARA DESA -

Vania Febriyantie baru saja memetik sayuran kangkung pada sebuah kebun seluas 480 meter persegi di atas lahan tidur milik warga di bilangan Arcamanik, Kota Bandung. Sayuran tanpa pestisida atau organik itu kemudian dia bersihkan untuk selanjutnya dikemas dan dikirimkan ke pelanggan.

Sudah satu tahun sejak November 2020, Vania bersama Raden Galih Aditya menggeluti pertanian di perkotaan dengan memanfaatkan lahan tidur yang ada di sekitar rumah mereka. Program yang mereka sebut dengan Seni Tani ini sudah menghasilkan 330.092 kilogram sayuran.

Berbeda dengan pertanian urban lainnya, Vania menerapkan sistem Community Supported Agriculture atau CSA untuk membagi hasil panen melalui kelompok tani yang mereka dirikan. Dengan sistem ini, petani muda yang terlibat mendapat kepastian akan mendapatkan untung dari hasil yang ditanamnya.

"Seni Tani adalah kebun pertanian urban yang mengusung konsep CSA dengan mengacu pada tiga kata kunci dasar, yaitu pemberdayaan, berkelanjutan dan lokal. Program pemberdayaan ini awalnya dari Komunitas 1000Kebun," kata Vania saat ditemui, Kamis (9/12/2021) lalu.

Konsep CSA yang diterapkan Seni Tani yaitu anggota kelompok ini membayar di awal bulan sebelum benih sayur ditanam. Dengan cara ini, petani urban mendapat kepastian sebelum panen.

"Sebelum panen, jarak satu bulan kita sudah buka pendaftaran kepada anggota. Para anggota ini merupakan masyarakat yang berkomitmen mendukung petani muda. Setelah menyelesaikan pendaftaran dan pembayaran, nanti menunggu sekitar bulan, kita mulai kirimkan sayuran dengan frekuensi waktu pengiriman seminggu sekali," tutur Vania yang berusia 28 tahun.

Terdapat tiga pilihan bagi pelanggan yang ingin berpartisipasi membeli sayuran di Seni Tani. Mulai dari paket small seharga Rp220 ribu hingga large senilai Rp400an ribu.

Vania mengatakan, dari enam batch yang dilaksanakan Seni Tani, ada sedikitnya lima orang yang sudah rutin berbelanja. Saat awal mau belanja, mereka bebas memilih jenis sayuran yang ingin dipesan.

"Memang kalau dari pasarnya sangat segmented, tapi saya optimis sistem CSA ini bisa diterapkan. Kesadaran konsumen juga sudah semakin membaik di mana mereka ada yang sudah memaklumi jika terjadi gagal panen," ujarnya.

Model CSA dikenal juga sebagai Community Shared Agriculture, sebuah alternatif, model ekonomi berbasis lokal untuk budidaya dan distribusi produk pertanian. CSA umumnya berfokus pada produksi produk berkualitas tinggi untuk masyarakat setempat, biasanya menggunakan metode pertanian organik atau biodinamik.

Dalam konsep CSA, kelompok individu atau konsumen yang menyatakan kesediaannya untuk mendukung seseorang atau sekelompok petani, di mana petani dan konsumen berbagi keuntungan dan risiko dari usaha tani yang dilakukan.

Istilah CSA digunakan di Amerika Serikat dan Kanada pada 1980-an, dipengaruhi oleh gagasan pertanian biodinamik Eropa yang dirumuskan oleh Rudolf Steiner. Namun model serupa juga digunakan di banyak belahan dunia lainnya seperti di Jepang disebut Teikai.

Selama ini dalam menghasilkan produk pertanian, petani menanggung semua risiko budidaya. Dengan CSA, risiko budidaya dibagi bersama konsumen yang bertindak sebagai investor atau anggota. Jika kelompok petani semakin kuat dalam pengetahuan dan keterampilan budidaya, risiko yang dihadapi anggota dan petani berkurang.

Melalui konsep CSA, konsumen mengetahui secara persis bagaimana suatu produk dihasilkan dan secara bersamaan membantu petani kecil menghasilkan produk dan mendapatkan pasar atas produknya. Saat ini CSA dapat menjadi inisiatif menghasilkan makanan lokal berkualitas serta rendah emisi.

Sejak 10 tahun terakhir, banyak komunitas dan gerakan petani-petani muda yang peduli pada kondisi pertanian Indonesia. Mereka terus bertambah dan menyebar ilmu-ilmu pertanian yang berkelanjutan, membagikannya pada petani-petani di lapisan terbawah.

Vania, adalah salah satu generasi milenial yang peduli dengan kondisi agraria di negeri ini. Lulusan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia ini mengaku memiliki ketertarikan di bidang pertanian sejak duduk di bangku kuliah.

Setelah lulus kuliah, ia bergabung dengan Yayasan Lingkungan Hidup Ecocamp. Selama empat tahun menjadi kepala kebun, Vania melihat ada kaitan erat antara pertanian dengan pembangunan berkelanjutan.

Bersama teman-temannya, Vania juga membentuk wadah untuk para peminat dan praktisi berkebun di Indonesia dengan pendekatan organik. Dengan moto, Organik Itu Tradisi Kita, komunitas ini percaya bahwa pangan organik bisa menyelamatkan manusia dan planet bumi dari kehancuran dan kepunahan.

"Ada salah satu guru yang juga Pastor Ferry Sutrisna Widjaja, saat aku dulu kerja di Yayasan Ecocam. Dia itu banyak kasih tahu soal CSA dan saya baca-baca lagi sistem ini yang adil untuk petani. Setelah berhenti dari Ecocam, saya penasaran berkebun organik dan ditantang untuk mengembangkan pemasaran, menyejahterakan petani, makanya kita terapkan CSA," ujar Vania.

Selain berbagi ilmu dari Pastor Ferry, Vania juga mendapatkan ilmu dari buku Paus Fransiskus yang telah mengeluarkan Ensiklik “Laudato Si”, sebuah ensiklik apostolik pertama yang membicarakan tentang ibu bumi sebagai rumah bersama. Ensiklik ini telah dikaji oleh berbagai macam tokoh dengan berbagai latar belakang baik oleh kelompok Katolik maupun non Katolik. 

Ensiklik ini memuat pandangan dan seruan Paus Fransiskus tentang pentingnya mengatasi perubahan iklim dan melindungi lingkungan hidup. Paus menyatakan bahwa kerusakan yang terus-menerus dilakukan oleh manusia terhadap lingkungan sebagai satu tanda kecil dari krisis etika, budaya dan spiritual modernitas.

Hingga saat ini, program CSA Seni Tani sudah memasuki periode keenam. Sedikitnya ada 20 orang anggota perbulannya yang rutin membeli sayuran.

"Fokus kita awalnya sayuran umbi, daun, buah-buahan, bumbu dan kacang-kacangan. Pas awal-awal memang tidak sesuai yang kita rencanakan, ada yang gagal panennya, diambil sama orang. Setelah itu kita evaluasi dan diputuskan untuk sayur daun-daunan, untuk umbi dan kacang-kacangan kita bermitra dengan RW lain," tutur Vania.

Pada masa pandemi Covid-19, pangan dirasakan betul sebagai kebutuhan pokok warga yang paling dibutuhkan. Ketika sebagian besar warga terpaksa tetap bekerja di luar rumah, dengan alasan tidak punya stok pangan, tidak punya tabungan untuk beli makan dan hal-hal serupa lainnya yang menunjukkan pentingnya pangan.

Aktivitas Seni Tani di Kota Bandung yang dimulai di tengah pandemi Covid-19 memang dimaksudkan sebagai jawaban terhadap situasi ekonomi yang melambat. Inisiatif ini untuk memberi ide mewujudkan ketahanan pangan. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung pada 2021, sebanyak 96% pangan Kota Bandung masih impor.

Gerakan yang berawal dari sulitnya orang-orang mengakses pangan di masa pandemi, memunculkan kegelisahan sejumlah pemuda akan banyaknya lahan tidur milik Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung.

Lahan tidur di kawasan Arcamanik, Kelurahan Sukamiskin, tepatnya di kawasan lahan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), mereka ubah menjadi pertanian urban. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya sekitar, lahan tidur tersebut kini menjadi kebun pangan melalui pertanian organik yang berkelanjutan.

"Sebenarnya kita dari Komunitas 1000 Kebun belum ada kebun bersama. Kalaupun berkegiatan, memanfaatkan anggota yang sudah berkebun. Bagai gayung bersambut, saat pandemi kita aktivasi kebun di Arcamanik ini dan sejak saat November 2020 tercetuslah Seni Tani," kata Vania.

Bersama tiga orang petani muda, kini Seni Tani memanfaatkan 1.060 meter persegi lahan tidur dan telah menghasilkan berbagai jenis sayuran sehat. Saat pertama kali mengaktivasi lahan tidur, Seni Tani menerapkan pertanian regeneratif dengan menanam kacang edamame.

Tujuan menanam edamame sendiri dilakukan agar mengembalikan nutrisi ke tanah. Kacang ini mengandung nitrogen tinggi yang bisa menarik nitrogen ke tanah sehingga tanah lebih subur.

"Salah satu warga di sini ada yang bersedia memberikan lahannya untuk digunakan bertani. Sehingga, total luas lahan yang digarap menjadi 1.060 meter persegi. Untuk saat ini, total lahan yang produktif sekitar 600an meter persegi karena ada beberapa lahan yang sedang dipakai perbaikan galian kabel," ujar Vania.

Benih sayur yang ditanam Seni Tani terus bertumbuh dan berkembang. Mikroorganisme tanah terus dipertahankan agar tetap berkembang dengan baik. Selain itu, lahan-lahan tidur yang sudah digemburkan kini bermanfaat bagi berbagai pihak.

Tak hanya itu, sayuran-sayuran di sini mendapatkan nutrisi alami dari lasagna compost yaitu olahan dengan memanfaatkan berbagai material organik di sekitar kebun seperti rumput liar, ilalang, jerami padi, hingga ampas kopi dari beberapa kedai kopi mitra.

Hingga Oktober 2021, kelompok tani di sini telah menghasilkan sebanyak 2.580 kilogram panen kompos dan memanfaatkan 920 kilogram ampas kopi.

"Dengan lahan 1.000 meter persegi, kita mulai menghitung panen bisa 300-400 kilogram. Setelah dihitung, hasil panennya bisa menghidupi 25 kepala keluarga. Karena hasilnya lebih banyak, akhirnya kita pakai kompos sendiri," kata Vania.

Ening, wanita paruh baya yang mendukung program pertanian urban yang digagas Vania mengaku bersyukur masih ada anak muda di kota yang terjun langsung menjadi petani. Lahan kosong seluas 480 meter miliknya yang selama 15 tahun tidak dipakai, dipinjamkan sementara kepada Seni Tani.

"Saya perhatikan mereka aktif di kebun pakai lahan tidur yang tempatnya terbatas sekali. Kebetulan saya punya lahan kosong, saya bilang sudah dipakai saja dan kebetulan saya juga senang tanaman," kata Ening.

Ening pun ingin mendorong anak-anak muda di kota yang saat ini gemar bertani. Hal ini menunjukkan bahwa pemuda di kota punya semangat yang tinggi untuk menjadi petani milenial, alih-alih terjerumus dalam hingar bingar kemajuan teknologi.

"Kita tahunya petani adalah orang tua dan di kampung-kampung sendiri anak mudanya sepertinya sudah tidak mau bertani. Di sini, saya senang lihat anak muda berkebun. Justru sekarang berkebun dilakukan orang kota oleh anak muda, yang di kampung malah gayanya ingin kekota-kotaan," tuturnya.

Selain mewujudkan ketahanan pangan lokal, Vania berharap Seni Tani menjadi penciptaan lapangan kerja. Keprihatinannya terhadap tingginya tingkat Depresi pemuda di Kota Bandung, salah satu penyebabnya dipicu oleh pengaruh media sosial dan sulitnya mendapatkan pekerjaan di masa pandemi, membuat Vania tergerak untuk melibatkan pemuda.

Pelibatan anak muda dalam gerakan Seni Tani awalnya diwujudkan dengan memberikan pelatihan pertanian urban. Setelah menyerap ilmu, para petani muda kota di Seni Tani diberdayakan dan mendapatkan kepastian pendapatan dari penjualan hasil tani dengan pendekatan sistem Community Supported Agriculture.

"Di sini, awalnya ada Yadi dan Rizal. Keduanya lulusan SMK yang belum punya pekerjaan karena pandemi. Kita coba cari income lain selain CSA, seperti bikin workshop kelas online untuk menutup operasional. Jadi, Yadi dan Rizal mendapatkan tambahan dari mengisi materi kelas," kata Vania. (*)

Vania mengaku untuk pendapatan kedua pemuda tersebut belum mencapai Upah Minimum Regional (UMR) Kota Bandung. Namun, bila dibandingkan dengan pendapatan mereka di perusahaan sebelumnya masih jauh dari angka yang diberikan dari hasil usaha tani.

"Untuk Rizal, memang sudah resign karena diterima kerja di toko kabel. Ke depannya kita ingin merekrut lebih banyak pemuda yang bersedia menjadi petani di kota," ujar Vania.

Vania ingin agar keterlibatan pemuda lebih banyak untuk menggarap lahan pertanian. Dia dan sejumlah pegiat perkotaan urban berharap terus menularkan semangat positif ini dan berhasil membangunkan lahan tidur di sejumlah wilayah. Mereka telah membuktikan lahan terlantar bisa dikelola menjadi lahan produktif yang hasilnya bisa dipanen untuk dinikmati bersama.

"Dengan adanya petani muda dengan jumlah yang banyak tentunya akan lebih diintensifkan CSA-nya," ucap perempuan berhijab yang murah senyum itu.

Pandemi Covid-19 membuat hampir seluruh masyarakat Indonesia, mau tidak mau harus melakukan segala aktivitasnya secara terbatas. Namun, dalam kondisi serba berbahaya, ada warga yang memang terpaksa tetap bekerja di luar. Lebih dari itu, tidak sedikit mereka yang terpaksa dirumahkan dan di-PHK.

Ani Wahyu Rachmawati merasakan bahayanya Covid-19 dan dampaknya terhadap ekonomi serta kesehatan membuatnya tergerak untuk membuat program Siaga Covid-19. Selaku penggerak Insan Priangan Foundation (IPF), ia mendirikan IPF Quickresponse Siaga Covid-19 yang menyasar warga Bandung yang terkena dampak pandemi.

Wanita lulusan program magister manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB) ini bersama tim IPF Quickreponse membuat kegiatan sederhana yaitu membuat paket sembako seperti ikan lele yang sudah dibumbui dan ayam ungkep sehingga memudahkan mereka yang sedang isolasi mandiri (isoman) di rumah untuk mengolah makanan, bingkisan lebaran untuk anak-anak yang orang tuanya di-PHK karena pandemi dan tidak dapat Tunjangan Hari Raya (THR) dari perusahaan.

“Jadi, dulu kita ingat kasus pertama Covid-19 pada Maret. Antara April-Mei IPF, sudah ada program Lawan Corona, Ramadan Bahagia. Di situ sudah mulai sekolah ditutup, kemudian fokus kita pada pekerja harian mereka yang terdampak PHK, serta pedagang di sekolah karena otomatis mereka tidak ada penghasilan,” kata Ani saat berbincang secara virtual, Sabtu (11/12/2021).

IPF berinisiatif membuat program yang intinya masyarakat dapat melaksanakan Ramadan dan Lebaran. Program tersebut berlangsung sampai Juli. Setelah itu, seiring kasus yang menurun, IPF mengembangkan program pesantren berdaya yang dijalankan hingga Mei 2021.

Setelah Mei, pertambahan kasus Covid-19 terus meningkat. Terutama kasus varian Delta. Kala itu, banyak masyarakat yang terpapar virus ini bahkan termasuk Ani dan keluarga dan beberapa orang tim IPF.

“Di situ, kita berpikir karena hampir semua orang kena, bagaimana dengan pekerja harian seperti tukang bubur, ojek di situasi mereka kena tapi kalau isolasi mereka enggak makan. Maka muncullah quickresponse,” ucap Ani.

IPF Quickresponse mendirikan dapur umum di daerah Kopo dan Dipatiukur. Dapur umum ini berfungsi untuk menyiapkan paket makanan yang dibagikan untuk pekerja yang isoman di rumah. Selain itu, IPF Quickresponse turut menyalurkan sembako untuk para pekerja harian yang terdampak Covid-19, paket vitamin, hingga tes swab bagi masyarakat yang tidak mampu.

“Yang enggak terkena biasanya kita bagi tugas untuk mengantar makanan dan sembako,” ujar Ani.

Total keseluruhan ada 752 paket sembako, 506 paket vitamin dan suplemen, 95 tes swab gratis, dan 313 katering isoman yang dibagikan IPF Quickresponse kepada warga. Selain itu, tim ini juga turut menyelenggarakan penyemprotan desinfektan ke 55 rumah hunian, 5 masjid, dan 1 rumah tahfidz. 

“Kita mendapatkan donasi dari masyarakat dalam bentuk crowdfunding. Semua informasinya disebarkan melalui media sosial. Ada 200an relawan dari berbagai kota. Sehingga penerima manfaat tidak hanya Bandung, ada dari Jakarta, Demak, Medan, Lampung, Bogor, Majalengka hingga Cianjur,” tutur Ani.

 

 

 

 

 

 

 

No comments

Powered by Blogger.