Pesona Desa Wisata Carangsari di Badung Bali, dari Wisata Alam Hingga Spiritual

Foto : Menteri Parekraf Sandiaga Salahuddin Uno menyapa penari barong berusia 15 tahun dalam kunjungan kerja ke Desa Wisata Carangsari, Badung, Bali, Sabtu (25/9/2021).  (Liputan6.com/HO/Parekraf)

SUARA DESA -

Desa Wisata Carangsari meraih Juara 1 Desa Wisata Terbaik Kategori Konten Kreatif. Keberhasilan itu diraih desa itu dalam ajang lomba Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI 2021) yang digelar oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan berakhir pada Selasa, 7 Desember 2021.

Melansir dari laman badungtourism.badungkab.go.id, Kamis, 9 Desember 2021, desa ini merupakan satu dari tujuh desa yang berada di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Jumlah penduduknya 4.655 jiwa, dengan komposisi laki-laki 2.316 jiwa dan perempuan 2.339 jiwa.

Desa wisata ini merupakan desa agraris yang memiliki luas 885 hektare. Pada bagian utara berbatasan dengan Desa Getasan, bagian selatan berbatasan dengan Desa Sangeh, bagian barat berbatasan dengan Sungai Penet dan pada bagian sebelah timur berbatasan dengan Sungai Ayung.

Posisi strategis dan memiliki kekayaan alam yang mumpuni sebagai aset kepariwisataan. Kondisi itu yang kemudian dikembangkan menjadi desa wisata berbasis konservasi berkelanjutan.

Carangsari berjarak kurang lebih 22 kilometer dari ibu kota Kabupaten Badung. Sementara, dari Denpasar jarak Carangsari sekitar 36 km.

Berdasarkan sumber sejarah berupa lontar-lontar yang ada di Puri Carangsari disebutkan bahwa sejarah Desa Carangsari dimulai dari penaklukan Bali oleh Kerajaan Majapahit dengan mengutus seorang Arya bernama Arya Sentong, dilansir dari laman cagarbudaya.kemdikbud.go.id.

Di Carangsari, wisatawan bisa berkeliling hutan konservasi dari atas punggung gajah. Hewan tunggangan asli Sumatera ini mengonsumsi hasil kebun masyarakat Carangsari, dari rumput sampai buah musiman.

Konsumsinya juga buah yang berkualitas karena gajah tidak akan makan rumput atau buah berpestisida. Sebagai daerah pertanian, Badung Utara, khususnya Petang, tidak hanya kaya dengan kebun kopinya, ada juga cokelat.

Dari pola budidaya sampai pengolahan menjadi produk kemasan coklat siap santap yang dilakukan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Di dapur ini diolah hasil buah coklat asli Carangsari Petang yang berkualitas. Di sini pengunjung bisa membuat beragam bentuk coklat dan bisa menjadi suvenir.

Caraangsari mempunyai tempat wisata spiritual yang beberapa waktu lalu sempat viral, yaitu Taman Beji. Objek wisata spiritual ini, seperti dilansir dari laman pbl-sarangsari.badungkab.go.id, terletak di Banjar Adat Jemeng, Desa Adat Samuan, Carangsari.

Objek wisata tersebut viral akibat banyaknya unggahan kegiatan berwisata religi saat perayaan hari Banyu Pinaruh sehari setelah hari Suci Saraswati beberapa waktu lalu. Taman Beji merupakan tempat wisatawan dapat melukat dengan mengajikan persembahan berupa canang di pancuran yang ada di tempat tersebut.

Umat Hindu di Bali percaya bahwa setiap manusia memiliki sifat diri yang kotor. Karena itu, sifat tersebut harus dibersihkan dan dibuang dari dalam diri manusia. 

Melukat berasal dari kata 'lukat' yang bermakna 'melepaskan'. Lewat upacara melukat diharapkan melepaskan hal-hal yang bersifat kotor atau negatif, baik secara jasmani maupun rohani, dapat kembali bersih dan suci. (*)

 

 

No comments

Powered by Blogger.